Purwakarta - Kemajuan Ilmu dan Tekhnologi (Iptek) terutama perkembangan informasi dan komunikasi menyebabkan persaingan antar bangsa yang ketat dalam era globalisasi ini. Untuk menghadapi hal tersebut tidak lain yang harus kita lakukan kecuali meningkatkan kemampuan, kemandirian, dan daya saing bangsa Indonesia melalui pendidikan untuk semua yang bermutu.
Demikian dikatakan Menteri Pendidikan Nasional Prof Dr Bambang Sudibyo MBA dalam sambutannya pada peringatan Hari Pendidikan Nasional yang dibacakan Camat Kecamatan Campaka di halaman Kantor Kecamatan. Hardiknas Tahun 2009 ini dilaksanakan serentak di masing-masing kecamatan se-Kabupaten Purwakarta, Sabtu pekan lalu.
Sebagaimana kita ketahui, lanjut Bambang, sains mempunyai peran sangat penting dalam penguasaan tekhnologi. Untuk itu kemampuan penguasaan tekhnologi tidak hanya dikembangkan melalui peningkatan keterampilan menggunakan tekhnologi tetapi juga melalui pengembangan daya nalar dan daya kreasi pada setiap jenjang pendidikan. Hal tersebut merupakan landasan yang kokoh untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam meraih masa depan bangsa yang lebih maju.
“upaya peningkatan kemampuan anak bangsa dalam bidang sains telah mrenunjukkan hasil yang menggembirakan yang terbukti dengan semakin terus meningkatnya dari tahun ke tahun peserta didik yang telah berhasil meraih medali dalam berbagai olimpiade sains baik tingkat nasional maupun internasional” jelas Bambang.
Pendidikan mempunyai perananan penting dan strategis dalam pembangunan bangsa. Maka pemerintah harus bertekad memberikan perhatian yang besar pada pembangunan pendidikan. Melalui proses pembanguna pendidikan kita hendak membangun manusia Indonesia seutuhnya menjadi subjek yang bermutu.
Untuk menjawab berbagai tantangan dan kendala yang dihadapi melalui Renstra (rencana strategi-Red) pendidikan Tahun 2005-2009 dengan telah ditetapkan tiga pilar kebijakan, yaitu Pemerataan dan perluasan akses pendidikan, Pendidikan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan, serta Penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra public.
Sebagai landasan hukum dalam menyelenggarakan pembangunan pendidikan, kita telah memiliki Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan.
Sebagai upaya meningkatkan Pembangunan Pendidikan, Pemerintah telah mengambil 9 kebijakan terobosan yang berskala missal selama kurun waktu 2005-2009, diantaranya (1) Pendanaan Pendidikan, melalui program Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Program BOS buku, program Bantuan Khusus Murid (BKM), program Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM), dan program Beasiswa; (2) Peningkatan kualifikasi kompetensi, dan sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan; (3) Penerapan TIK secara Massal untuk E-pembelajaran dan E-administrasi; (4) Pembangunan prasarana dan sarana pendididkan secara missal; (5) Rehabilitasi prasarana dan sarana pendididkan secara missal; (6) Reformasi perbukuan secara mendasar; (7) Peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan dengan pendekatan komprehensif; (8) Penguatan tata kelola, akuntabilitaas, dan citra publik pendidikan dengan pendekatan komprehensif; dan (9) Intensifikasi dan eksistensi pendidikan non-formal dan informal untuk menggapai layanan pendidikan kepada peserta didik yang tak terjangkau pendidikan formal (reaching the unreached).
Dalam kegiatan Hardiknas tingkat Kecamatan Campaka khususnya diisi dengan berbagai kegiatan diantaranya olah raga, olimpiade, Lomba Baris Berbaris (LBB). “rangkaian kegiatan ini dalam rangka Hardiknas yang selanjutnya akan dilombakan ke tingkat Kabupaten. Sementara juara umum dalam kegiatan tingkat Kecamatan Campaka diraih SDN 1 Kertamukti” terang Ketua Panitia Hardiknas tingkat Kecamatan Campaka, Eman Sulaeman SPd.
“Kecamatan Campaka memiliki prestasi dalam bidang Lomba Baris Berbaris (LBB). Sementara Volley Ball menjadi target mewakili kabupaten ke tingkat propinsi. Dan target Porseni tingkat kabupaten minimal lima emas masing-masing cabang olah raga” jelas Eman.
Sementara kegiatan Hardiknas di Kecamatan Campaka melibatkan perwakilan masing-masing sekolah dan dinas instansi terkait, namun sangat disayangkan tidak diikut sertakan orang tua siswa. “padahal peran orang tua sangat dominan dalam menunjang pendidikan sehingga apapun itu yang berhubungan dengan pendidikan harus dilibatkan diantaranya kegiatan Hardiknas ini” jelas Yaya Guru SDN 1 Campakasari.
Menurut Yaya, pendidikan tidak akan berhasil kalau tidak ada perhatian dari tiga unsur yaitu guru, pemerintah dan orang tua. “orang tua ini sebenarnya sangat dominan dalam menentukan berhasil atau tidaknya pendidikan. Orang tua yang harus lebih perhatian terhadap anaknya sebagai anak didik sementara guru hanya sebatas mendapatkan titipan. Orang tua idealnya harus memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak dalam menunjang pendidikan. Disinilah kadang orang tua kurang memahami sehingga guru yang selalu disalahkan. Sehingga demikian orang tua harus berperan dalam mensukseskan pendidikan” harapnya. (as).
DANA PERGULIRAN TELAH DISALURKAN
Purwakarta -Dana sepuluh persen Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan yang tertunda Tahun 2008 lalu di Kabupaten Purwakarta, Senin pekan lalu dicairkan untuk disalurkan kepada penerima manfaat.
“pencairan kali ini selain dana perguliran tahap awal di Tahun 2009 juga dilakukan pencairan dana sepuluh persen yang tertunda Tahun 2008 kepada masyarakat khususnya di Kabupaten Purwakarta di Kecamatan Darangdan” terang anggota Tim Koordinasi (TK) PNPM Mandiri Perdesaan, Suryana saat memberikan sambutannya di Desa Nangewer Kecamatan Darangdan, Senin pekan lalu.
Dana ini tentunya sangat ditunggu-tunggu masyarakat, lanjutnya, karena pada Tahun 2008 lalu mereka ini harus tertunda dulu akibat adanya kebijakan Pemerintah Pusat, namun demikian kami dari TK PNPM Mandiri Perdesaan mengharapkan dana ini dimanfaatkan sebaik-baiknya sehingga dapat bermanfaat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “bagi mereka yang telah mendapatkan bantuan ini diharapkan dalam pengembaliannya harus diperhatikan karena ini akan berpengaruh kepada dirinya sendiri dalam menerima manfaat pada tahap selanjutnya” harap Suryana.
Biasanya bagi mereka yang meminjam, lanjut Suryana, sadar saat meminjam dan tidak sadar dalam pengembalian. “sebagaimana dalam keterangan hadits barang siapa yang menunda-nunda hutang sementara dirinya mampu maka setiap hari bertambah satu dosa baginya” jelas Suryana.
“jadi jelas agama pun telah menerangkan dengan begitu jelas untuk mengatur dan memberikan sangsi bagi mereka yang berhutang, sehingga dalam melakukan sesuatu kita harus peduli dengan orang lain, karena pada dasarnya dalam PNPM ini adanya kepedulian dengan orang lain karena masih banyak mereka yang lebih membutuhkan. Dengan lancarnya dalam pengembalian ini berarti telah peduli terhadap orang lain” Jelasnya gamblang.
Ketua Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Darangdan, Naning Sariningsih SH mengungkapkan, di Kecamatan Darangdan sebanyak lima desa yang mengalami penundaan sepuluh persen diantaranya Desa Nangewer, Sawit, Neglasari, Linggasari, dan Desa Depok. “untuk kelima desa ini selama tiga hari akan selesai pencairan kepada penerima manfaat, dan diawali di Desa Nangewer ini” jelas Naning.
Setelah menerima manfaat ini, lanjut Naning, kami mengharapkan dana ini dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan usaha dalam rangka meningkatkan kesejahteraan yang dikoordinir masing-masing kelompok. “pengembalian masyarakat dalam bidang SPP rata-rata mencapai 86 persen. Dan dana yang digulirkan kepada masyarakat di Kecamatan Darangdan Tahun 2009 ini untuk perguliran tahap pertama Rp. 27 juta dan dana penundaan sepuluh persen Rp. 42 juta. Ini diberikan untuk tujuh kelompok penerima manfaat” terang Naning.
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan Tahun 2009 di Kabupaten Purwakarta dialokasikan dana mencapai Rp. 19,4 Milyar dengan cosharing dari Pemda Purwakarta sebesar Rp. 3,8 Milyar. Dana tersebut dialokasikan untuk 13 kecamatan yang sebelumnya hanya 8 kecamatan dari 17 kecamatan yang ada. Dan untuk Kabupaten Purwakarta sebagian kalangan menilai kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan ini meningkat sehingga terlihat dengan adanya penambahan kecamatan sebagai penerima manfaat. (as).
“pencairan kali ini selain dana perguliran tahap awal di Tahun 2009 juga dilakukan pencairan dana sepuluh persen yang tertunda Tahun 2008 kepada masyarakat khususnya di Kabupaten Purwakarta di Kecamatan Darangdan” terang anggota Tim Koordinasi (TK) PNPM Mandiri Perdesaan, Suryana saat memberikan sambutannya di Desa Nangewer Kecamatan Darangdan, Senin pekan lalu.
Dana ini tentunya sangat ditunggu-tunggu masyarakat, lanjutnya, karena pada Tahun 2008 lalu mereka ini harus tertunda dulu akibat adanya kebijakan Pemerintah Pusat, namun demikian kami dari TK PNPM Mandiri Perdesaan mengharapkan dana ini dimanfaatkan sebaik-baiknya sehingga dapat bermanfaat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “bagi mereka yang telah mendapatkan bantuan ini diharapkan dalam pengembaliannya harus diperhatikan karena ini akan berpengaruh kepada dirinya sendiri dalam menerima manfaat pada tahap selanjutnya” harap Suryana.
Biasanya bagi mereka yang meminjam, lanjut Suryana, sadar saat meminjam dan tidak sadar dalam pengembalian. “sebagaimana dalam keterangan hadits barang siapa yang menunda-nunda hutang sementara dirinya mampu maka setiap hari bertambah satu dosa baginya” jelas Suryana.
“jadi jelas agama pun telah menerangkan dengan begitu jelas untuk mengatur dan memberikan sangsi bagi mereka yang berhutang, sehingga dalam melakukan sesuatu kita harus peduli dengan orang lain, karena pada dasarnya dalam PNPM ini adanya kepedulian dengan orang lain karena masih banyak mereka yang lebih membutuhkan. Dengan lancarnya dalam pengembalian ini berarti telah peduli terhadap orang lain” Jelasnya gamblang.
Ketua Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Darangdan, Naning Sariningsih SH mengungkapkan, di Kecamatan Darangdan sebanyak lima desa yang mengalami penundaan sepuluh persen diantaranya Desa Nangewer, Sawit, Neglasari, Linggasari, dan Desa Depok. “untuk kelima desa ini selama tiga hari akan selesai pencairan kepada penerima manfaat, dan diawali di Desa Nangewer ini” jelas Naning.
Setelah menerima manfaat ini, lanjut Naning, kami mengharapkan dana ini dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan usaha dalam rangka meningkatkan kesejahteraan yang dikoordinir masing-masing kelompok. “pengembalian masyarakat dalam bidang SPP rata-rata mencapai 86 persen. Dan dana yang digulirkan kepada masyarakat di Kecamatan Darangdan Tahun 2009 ini untuk perguliran tahap pertama Rp. 27 juta dan dana penundaan sepuluh persen Rp. 42 juta. Ini diberikan untuk tujuh kelompok penerima manfaat” terang Naning.
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan Tahun 2009 di Kabupaten Purwakarta dialokasikan dana mencapai Rp. 19,4 Milyar dengan cosharing dari Pemda Purwakarta sebesar Rp. 3,8 Milyar. Dana tersebut dialokasikan untuk 13 kecamatan yang sebelumnya hanya 8 kecamatan dari 17 kecamatan yang ada. Dan untuk Kabupaten Purwakarta sebagian kalangan menilai kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan ini meningkat sehingga terlihat dengan adanya penambahan kecamatan sebagai penerima manfaat. (as).
TEKNOLOGI INFORMASI SANGAT PENTING

Purwakarta -Untuk menciptakan sistem kepegawaian yang handal, harus didukung oleh perangkat yang memadai. Sistem kepegawaian yang masih menggunakan cara manual ditengarai lambat dalam proses membentuk postur PNS yang professional. PNS sebagai abdi Negara dan abdi masyarakat dituntut untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“tidak hanya Bupati yang dituntut untuk transparan, tetapi birokrat juga dituntut untuk transparan, karena sudah digaji oleh Negara. Untuk itu perlu dibuat konsolidasi kepegawaian dari era manual ke era digital atau teknologi Informasi, sehingga segala informasi dapat di terima oleh masyarakat” dikatakan Bupati Purwakarta, H Dedi Mulyadi SH pada Apel Pagi, Senin pekan lalu di halaman Pendopo Kabupaten Purwakarta.
Dengan teknologi informasi, lanjut Bupati, diharapkan akan terbentuk kedisiplinan, sikap dan kinerja yang terukur bagi para PNS sehingga informasi dapat diakses dengan cepat oleh public. “hal ini sebagai salah satu pertanggungjawaban kita kepada masyarakat. Sebagai contoh permasalahan absensi, kedepan apabila sudah digital, tidak ada alasan pegawai mangkir tanpa keterangan“ jelas Bupati.
Masih terkait dengan tugas PNS, Bupati menegaskan, para kepala Organisasi Pemerintah daerah (OPD) untuk bekerja berdasar Tupoksi masing-masing tanpa harus menunggu perintah Bupati. Seperti dalam hal kebersihan, Bupati meminta kepada Camat, Kades, Kepala kelurahan untuk terus menggerakan masyarakat dalam hal kebersihan. Satpol PP harus terus memperhatikan masalah K-3 di Purwakarta. “tidak ada target untuk perolehan Adipura, tetapi yang terpenting kebersihan dapat dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat“ harap Bupati.
Pada acara apel pagi tersebut dihadiri Wakil Bupati, Sekda, para pejabat eselon, 2, 3 dan 4 serta para pegawai dilingkungan Pemkab Purwakarta dan dirangkaikan dengan pemberian bantuan pembangunan Rumah dari kegiatan 'Rereongan Sabatang' kepada Bapak Adis, dari Desa Cibatu kec. Cibatu dan Ibu Ahmi dari Kp. Pasir Kukun Desa Cijantung Kec. Sukatani masing-masing 12 juta Rupiah.(as).
MANIIS GULIRKAN DANA PENUNDAAN 10 PERSEN
Purwakarta - Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) Perdesaan mengalami penundaan dana perguliran anggota Simpan Pinjam Perempuan (SPP) sepuluh persen di Tahun 2008, akhirnya seluruh UPK se-Kabupaten Purwakarta menyalurkannya kepada masing-masing kelompok SPP. Salahsatunya di Desa Tegal Datar Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta yang mengalami penundaan sebesar Rp. 30 juta rupiah, diserahkan melalui Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Maniis, Rabu pekan lalu.
“Kecamatan Maniis mengalami penundaan sebesar sepuluh persen dengan total Rp. 100 juta rupiah. Ini merupakan kebijakan Pemerintahan Pusat yang ditunda penyalurannya pada Tahun 2008 lalu” terang Suryana Anggota Satuan Kerja (Satker) PNPM Mandiri Perdesaan.
Kepada anggota kelompok yang menerima bantuan untuk memanfaatkannya sebaik-baiknya. “jangan merasa diberi bantuan ini merupakan hibah tetapi harus memiliki rasa kesadaran bahwa bantuan ini untuk meningkatkan kesejahteraan, selain itu juga harus menyadari bahwa diberi bantuan ini juga memiliki kewajibannya dimana saudara yang ada disekitarnya pun sama harus meningkat kesejahteraannya. Dengan demikian kesadarannya dalam mengembalikan berarti telah perduli kepada sesamanya” jelas Suryana.
Kasi Ekonomi Kecamatan Maniis, Asep Rahman SH mengungkapkan, kepada anggota kelompok yang telah menerima bantuan diharapkan dapat mengembalikan kewajibannya tepat waktu. “jangan menunggu ditagih oleh ketua kelompok tetapi memiliki kesadaran sendiri dengan menyerahkan sejumlah kewajiban tepat pada waktunya, dan yang paling penting jangan membuat masalah karena imbasnya kepada anggota kelompok lainnya yang ada di Kecamatan Maniis” harap Asep.
Ketua UPK Kecamatan Maniis, Anah mengharapkan kepada pengurus kelompok yaitu Ketua sekretaris dan bendahara harus memahami apa yang yang menjadi tanggungjawabnya sehingga kinerja dilapangan akan terjalin dengan baik. “setiap kelompok diberikan buku bimbingan dan diharapkan apabila ada yang memeriksa tolong untuk diberikan dengan meminta saran dan pendapat setelah tim baik dari UPK, Kecamatan maupun dari Dinas memeriksa kelompok bersangkutan” harap Anah.
Kecamatan Maniis merupakan salahsatu kecamatan yang ada di Kabupaten Purwakarta yang letak geografisnya cukup jauh dari Ibu Kota Kabupaten, namun demikian dengan adanya PNPM Mandiri Perdesaan, baik dibangunnya sarana infrastruktur maupun usaha ekonomi dapat membantu mengatasi permasalahan yang ada sehingga dapat meningkatkan tarap kesejahteraan masyarakat. (as).
UPK SE-KABUPATEN PURWAKARTA STUDI BANDING KE CIMERAK
Purwakarta - Dalam rangka Profesionalitas dan Akuntabilitas bagi pengelolaan Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) Perdesaan, UPK se-Kabupaten Purwakarta mengadakan studi banding ke UPK Kecamatan Cimerak Kabupaten Ciamis Jawa Barat, Jum’at dan Sabtu pekan lalu.
Kecamatan Cimerak merupakan salahsatu kecamatan yang ada di Kabupaten Ciamis yang letaknya paling ujung kabupaten. “kecamatan ini merupakan kecamatan yang berbatasan dengan Australia setelah melewati laut selatan” terang Camat Kecamatan Cimerak Drs Sobar Sugema saat menerima kedatangan tim UPK Kabupaten Purwakarta di Aula kecamatan.
Keacamatan Cimerak, lanjut Sobar, terdiri dari sebelas desa dengan kondisi geografis yang cukup sulit untuk dijangkau dengan kendaraan apalagi kendaraan roda empat. “jarak Kecamatan Cimerak dengan Ibu Kota Kabupaten sekitar 140 Km. namun demikian UPK Kecamatan Cimerak merupakan salahsatu kecamatan yang cukup tangguh yang berdiri dan menerima PNPM Tahun 1998 dan dinilai cukup berhasil di Kabupaten Ciamis ini” jelas Sobar.
Lebih jauh Sobar Sugema menjelaskan, Kecamatan Cimerak merupakan daerah yang cukup jauh dari pusat pemerintahan dengan kondisi geografis yang cukup sulit dijangkau, dengan adanya PNPM sedikit banyak terbantu apalagi dengan adanya pembangunan infrastruktur sangat membantu. Selain itu dengan adanya Simpan Pinjam kelompok Perempuan (SPP) sangat membantu sekali perempuan di Kecamatan Cimerak diberdayakan dengan membentuk kelompok sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga karena selama ini di kecamatan ini kebanyakan perempuannya menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW).
Ketua Forum PNPM Mandiri Perdesaan yang juga pimpinan rombongan studi banding UPK se-Kabupaten Purwakarta, Aliyudin mengatakan, kita mengadakan studi banding dengan misi dan harapan profesionalitas dan akuntabilitas pengelolaan UPK. Selain itu ada 3 bidang yang menjadi bahan studi banding diantaranya jajaran UPK, Badan Pemeriksa (BP), dan BKAD. “pengelolaan UPK antara Kabupaten Purwakarta dengan Kecamatan Cimerak Kabupaten Ciamis secara teknis tidak akan jauh berbeda, namun demikian tidak menutup kemungkinan UPK Cimerak punya tekhnik tersendiri dalam pengelolaan keuangan UPK yang dilanjutkan dengan perkembangan pengelolaan kelompok“ jelas Aliyudin.
Ditempat terpisah Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat (PM) Badan Keluarga Berencana dan Perlindungan Ibu dan Anak (BKBPIA) Kebupaten Purwakarta Drs Asep Suparman mengatakan, kegiatan studi banding sangat penting dilakukan karena merupaka penyegaran untuk melihat bagaimana pengelolaan keuangan di UPK di kabupaten lain. “dengan studi banding bisa dilihat positif dan negatifnya pengelolaan di kabupaten lain, sehingga kita mendapatkan pelajaran dan yang positifnya dijadikan dasar dan acuan untuk lebih maju lagi” jelas Asep
Hal senada dikatakan anggota Satuan Kerja (Satker) PNPM Mandiri Perdesaan sekaligus pendamping studi banding, Suryana mengatakan, pengelolaan yang patut menjadi pelajaran di Kecamatan Cimerak untuk diterapkan di Kabupaten Purwakarta, “salahsatunya di Kabupaten Ciamis ini seluruh pengelola proaktif untuk mengatasi kemacetan dengan membentuk tim penagih, sementara di Kabupaten Purwakarta tim ini tidak terbentuk. Diakui masalah dana memang menjadi kendala dalam membentuk tim ini dan mudah-mudahan untuk Tahun 2009 ini dapat terbentuk” harap Suryana.
“Yang baiknya yang ada di UPK Cimerak kita sepakat untuk menerapkannya di Kabupaten Purwakarta dan diharapkan dapat dijadikan bahan dalam pengelolaan keuangan UPK sehingga kedepan lebih maju dan lebih sukses lagi” jelas Suryana.
Kegiatan studi banding ini diikuti delapan UPK seluruh pengurus terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. Setelah kegiatan studi banding dilakukan dan untuk menyegarkan fikiran kegiatan dilanjutkan dengan rekreasi ke Pantai Pangandaran dan selanjutnya kembali ke Kabupaten Purwakarta. (as).
Kecamatan Cimerak merupakan salahsatu kecamatan yang ada di Kabupaten Ciamis yang letaknya paling ujung kabupaten. “kecamatan ini merupakan kecamatan yang berbatasan dengan Australia setelah melewati laut selatan” terang Camat Kecamatan Cimerak Drs Sobar Sugema saat menerima kedatangan tim UPK Kabupaten Purwakarta di Aula kecamatan.
Keacamatan Cimerak, lanjut Sobar, terdiri dari sebelas desa dengan kondisi geografis yang cukup sulit untuk dijangkau dengan kendaraan apalagi kendaraan roda empat. “jarak Kecamatan Cimerak dengan Ibu Kota Kabupaten sekitar 140 Km. namun demikian UPK Kecamatan Cimerak merupakan salahsatu kecamatan yang cukup tangguh yang berdiri dan menerima PNPM Tahun 1998 dan dinilai cukup berhasil di Kabupaten Ciamis ini” jelas Sobar.
Lebih jauh Sobar Sugema menjelaskan, Kecamatan Cimerak merupakan daerah yang cukup jauh dari pusat pemerintahan dengan kondisi geografis yang cukup sulit dijangkau, dengan adanya PNPM sedikit banyak terbantu apalagi dengan adanya pembangunan infrastruktur sangat membantu. Selain itu dengan adanya Simpan Pinjam kelompok Perempuan (SPP) sangat membantu sekali perempuan di Kecamatan Cimerak diberdayakan dengan membentuk kelompok sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga karena selama ini di kecamatan ini kebanyakan perempuannya menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW).
Ketua Forum PNPM Mandiri Perdesaan yang juga pimpinan rombongan studi banding UPK se-Kabupaten Purwakarta, Aliyudin mengatakan, kita mengadakan studi banding dengan misi dan harapan profesionalitas dan akuntabilitas pengelolaan UPK. Selain itu ada 3 bidang yang menjadi bahan studi banding diantaranya jajaran UPK, Badan Pemeriksa (BP), dan BKAD. “pengelolaan UPK antara Kabupaten Purwakarta dengan Kecamatan Cimerak Kabupaten Ciamis secara teknis tidak akan jauh berbeda, namun demikian tidak menutup kemungkinan UPK Cimerak punya tekhnik tersendiri dalam pengelolaan keuangan UPK yang dilanjutkan dengan perkembangan pengelolaan kelompok“ jelas Aliyudin.
Ditempat terpisah Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat (PM) Badan Keluarga Berencana dan Perlindungan Ibu dan Anak (BKBPIA) Kebupaten Purwakarta Drs Asep Suparman mengatakan, kegiatan studi banding sangat penting dilakukan karena merupaka penyegaran untuk melihat bagaimana pengelolaan keuangan di UPK di kabupaten lain. “dengan studi banding bisa dilihat positif dan negatifnya pengelolaan di kabupaten lain, sehingga kita mendapatkan pelajaran dan yang positifnya dijadikan dasar dan acuan untuk lebih maju lagi” jelas Asep
Hal senada dikatakan anggota Satuan Kerja (Satker) PNPM Mandiri Perdesaan sekaligus pendamping studi banding, Suryana mengatakan, pengelolaan yang patut menjadi pelajaran di Kecamatan Cimerak untuk diterapkan di Kabupaten Purwakarta, “salahsatunya di Kabupaten Ciamis ini seluruh pengelola proaktif untuk mengatasi kemacetan dengan membentuk tim penagih, sementara di Kabupaten Purwakarta tim ini tidak terbentuk. Diakui masalah dana memang menjadi kendala dalam membentuk tim ini dan mudah-mudahan untuk Tahun 2009 ini dapat terbentuk” harap Suryana.
“Yang baiknya yang ada di UPK Cimerak kita sepakat untuk menerapkannya di Kabupaten Purwakarta dan diharapkan dapat dijadikan bahan dalam pengelolaan keuangan UPK sehingga kedepan lebih maju dan lebih sukses lagi” jelas Suryana.
Kegiatan studi banding ini diikuti delapan UPK seluruh pengurus terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. Setelah kegiatan studi banding dilakukan dan untuk menyegarkan fikiran kegiatan dilanjutkan dengan rekreasi ke Pantai Pangandaran dan selanjutnya kembali ke Kabupaten Purwakarta. (as).
Sabtu, 23-5-09 Siswa SLB Pentas Wakil Gubernur Ikuti Menari

Purwakarta-Sekolah Luar Biasa (SLB) sering dipandang sebelah mata keberadaanya namun dibalik itu semua kekuasaan yang maha penciptalah yang dapat menentukan baik buruknya pandangan yang diperkirakan selama ini. Hal ini Walaupun segala keterbatasan dibandingkan orang normal lainya, merekapun punya potensi untuk maju, turut andil mengisi pembangunan.
Sebagai untuk mengenang belum lama ini SLB Negeri Purwakarta yang dikepalai oleh Kartika dikunjungi orang kedua Provinsi di Jawa barat Wakil Gubernur H.Dede Yusuf dalam acara pentas pelestarian Budaya, dalam kesempatan tersebut siswa/i memeragakan peragaan busana kebaya layaknya seorang peragawan begitupun dengan tarian.
Suasanapun jadi meriah menarik perhatian tamu yang datang Wakil Gubernurpun terhanyut mengikuti tarian yang ditampilkan Siswa/i SLB, tak kalah tarian Jaipong asal dari Jawabarat ditampilkan. gerakan itupun diikuti oleh Wakil Gubernur Dede Yusuf, begitupun dengan gerakan yang diperagakan oleh Bupati Purwakarta H. Dedi Mulyadi, seiring dengan gamelan yang ditabuh ini menandakan salah satu bukti bahwa SLB tidak bisa dianggap sebelah mata keberadaannya.
Dalam kesempatan itu Kepala SLB Negeri Purwakarta Kartika, pihaknya hanya meminta kepada pemerintah untuk dapat diakui keberadaan siswa/i SLB yang juga punya hak sebagai negara untuk maju dimasa yang akan datang, meskipun ada keterbatasan dibanding orang normal lainnya, “Mereka punya potensi yang tidak bisa dipandang sebelah mata, agar kamipun tidak merasa dianak “tirikan” kita butuh perhatian peran serta pemerintah bahwa SLB juga bisa maju seperti murid sekolah lain,” katanya.
Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusup dengan kagum menyampaikan pesan, agar tidak menyepelekan mereka meski dengan keterbatasan dapat mandirin dan membuktikan kebolehan yang dimiliki. sebagaimana yang telah disaksikan, pada pertunjukan tersebut.
Sementara itu Bupati Purwakarta H.Dedi Mulyadi SH dalam kesempatan tersebut mengatakan, bahwa bakat yang dimiliki oleh Siswa/i merupakan salah satu asset yang harus dikembangkan, mereka mempunyai hak yang sama seperti warga Negara lainya meski kemampuan bebeda dari orang kebanyakan normal lainnya. Terbukti mereka bisa bahu membahu dengan sesamanya sesuai persi masing-masing. mudah-mudahan kamipun akan dapat memberikan hal yang lebih baik dari sekarang.
Kepala Bakorwil Purwakarta H. Sumirat yang menyaksikan kebolehan siswa siswi SLB dalam sambutanya mengatakan, kita punya budaya yang harus di lestarikan, tidak kalah lebih baik dari kebudayaan luar, pelestarian budaya dengan etika dan penempatan tepat dengan semangat menghargai budaya, kita jauh lebih bermoral, sehingga budaya ini bisa dinikmati generasi kedepan,”jelasnya.(Laela
Sabtu,23-5-09 / Wisata Pererat Hubungan Murid dan Guru
Purwakarta-Dengan telah berakhirnya Ujian Negara (UN) pelajar siswa SMPN 3 melakukan Wisata ke Yogyakarta. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kepenatan dan memberikan kesegaran, hiburan serta mencari pengalaman sebagai tambahan pengetahuan.
Wisata kali ini diikuti para pelajar kelas 9 (III) kelas akhir yang akan meninggalkan bangku sekolah melanjutkan ke jenjang SMA. Adapun Lokasi yang di tuju Candi Borobudur, Meseum Dirgantara, Kraton, Pantai Parang Tritis, Kota Gede dan Kasongan, dengan jadwal keberangkatan tanggal 22-25 mei 2009.
Demikian dikatakan Barno Ketua Panitia Study Tour SMPN 3 Purwakarta Jum’at Petang (22/5) kepada Bedanews ditemui disela-sela persiapan pemberangkatan wisata di Aula Sekolah di jalan A. Yani No. 100 Purwakarta.
“Tahun sekarang hanya siswa/i kelas 9 (III) akhir tahun ajaran 2008-2009 dari 8 kelas jumlah murid 384 orang hanya 160 orang siswa/i yang ikut wisata (3 bis ). Selaku guru pembimbing dan pengajar di sekolah tidak melakukan pemaksaan terhadap Siswa/i apabila tidak memungkinkan turut serta, ”Semua telah mendapat izin dari orang tua masing-masing siswa/i termasuk persetujuan dari komite sekolah, dan sekolah tidak memaksakan apabila orang tua murid tidak dapat ikut serta, “terangnya saat itu juga didampingi Seketaris panitia Septi Sulisdiana, S.Pd.
Sementara itu ditempat yang sama Deni Danumiharja, S.Pd Kepala Sekolah SMPN 3 menambahkan, dengan terlaksananya wisata ini dapat mempererat hubungan antara murid dan guru juga menambah wawasan pengetahuan buata Siswa/i, selain untuk dirinya sendiri juga buat Nusa dan Bangsa. Nantinya, siapa tahu alumni sekolah akan melahirkan generasi sebagai pemimpin bangsa kedepan.
“Diharapkan dengan terjalinya hubungan tersebut akan melahirkan kenangan yang tak ternilai harganya semasa menjadi anak didik, selain itu kedekatan ini menciptakan rasa peduli dan empati terhadap sekolah adanya rasa memiliki terhadap sekolah, siapa tahu ada yang menjadi Presiden ” papar nya (Syaiful Jabrig)
Wisata kali ini diikuti para pelajar kelas 9 (III) kelas akhir yang akan meninggalkan bangku sekolah melanjutkan ke jenjang SMA. Adapun Lokasi yang di tuju Candi Borobudur, Meseum Dirgantara, Kraton, Pantai Parang Tritis, Kota Gede dan Kasongan, dengan jadwal keberangkatan tanggal 22-25 mei 2009.
Demikian dikatakan Barno Ketua Panitia Study Tour SMPN 3 Purwakarta Jum’at Petang (22/5) kepada Bedanews ditemui disela-sela persiapan pemberangkatan wisata di Aula Sekolah di jalan A. Yani No. 100 Purwakarta.
“Tahun sekarang hanya siswa/i kelas 9 (III) akhir tahun ajaran 2008-2009 dari 8 kelas jumlah murid 384 orang hanya 160 orang siswa/i yang ikut wisata (3 bis ). Selaku guru pembimbing dan pengajar di sekolah tidak melakukan pemaksaan terhadap Siswa/i apabila tidak memungkinkan turut serta, ”Semua telah mendapat izin dari orang tua masing-masing siswa/i termasuk persetujuan dari komite sekolah, dan sekolah tidak memaksakan apabila orang tua murid tidak dapat ikut serta, “terangnya saat itu juga didampingi Seketaris panitia Septi Sulisdiana, S.Pd.
Sementara itu ditempat yang sama Deni Danumiharja, S.Pd Kepala Sekolah SMPN 3 menambahkan, dengan terlaksananya wisata ini dapat mempererat hubungan antara murid dan guru juga menambah wawasan pengetahuan buata Siswa/i, selain untuk dirinya sendiri juga buat Nusa dan Bangsa. Nantinya, siapa tahu alumni sekolah akan melahirkan generasi sebagai pemimpin bangsa kedepan.
“Diharapkan dengan terjalinya hubungan tersebut akan melahirkan kenangan yang tak ternilai harganya semasa menjadi anak didik, selain itu kedekatan ini menciptakan rasa peduli dan empati terhadap sekolah adanya rasa memiliki terhadap sekolah, siapa tahu ada yang menjadi Presiden ” papar nya (Syaiful Jabrig)
Langganan:
Postingan (Atom)
Apakah yang diperlukan anda dalam penampilan blog ini ?
Pengikut
KURS
!-end>!-currency>
